Selasa, 31 Januari 2017

Perempuan dan Logika Cinta (dewasa)

Perempuan merupakan manusia yang rapuh dan butuh perlindungan, tetapi kadangkala kita juga dapat tangguh menghadapi perihal kehidupan. Menjadi seorang perempuan hendaknya bijaksana dan tentu harus dapat menjaga dan menghormati diri sendiri. Sedangkan cinta merupakan suatu hal sensitif dalam kehidupan perempuan itu sendiri. Cinta dapat menjadi energi yang memungkinkan suatu waktu dapat berubah menjadi tenaga atau bisa jadi sianida, artinya tergantung bagaimana kita menyikapi hal-hal yang berkaitan dengan perasaan dan keinginan. Dalam tulisan perdana di blog ini, saya ingin sedikit berbagi tentang perempuan dan logika cinta.

PERNAHKAH ANDA JATUH CINTA?
Pastinya beberapa dari pembaca berpikir bahwa ini pertanyaan bodoh, tentu saja pernah. Sejatinya manusia, perempuan juga tidak dapat mengendalikan pada siapa ia akan jatuh cinta. Beberapa perempuan memang memiliki kriteria sendiri dalam memandang cinta. Tetapi, sekalipun perempuan membatasi dirinya terbuka hanya pada lelaki (misal: kaya, tinggi, setia, tampan, dll) bukan berarti dapat memastikan bahwa suatu waktu ia tidak akan jatuh cinta pada lelaki sederhana. Pada intinya, hampir semua perempuan menginginkan laki-laki yang dapat membuatnya merasa menjadi perempuan yang beruntung. 
Banyak model awal jatuh cinta bisa terjadi sebelum akhirnya menjadi mencintai. Tidak ada yang salah pada hal itu, tergantung bagaimana kita menyeimbangkan perasaan dan logika. Banyak pendapat mengatakan bahwa perempuan lebih banyak menggunakan perasaan dalam berpikir. Tetapi apabila perempuan itu sendiri telah berada di fase benar-benar kecewa, perasaannya bisa berubah menjadi logika yang kadangkala tidak dapat dikendalikan sebagaimana semestinya.

Pada kali ini, saya hanya ingin membahas satu kasus yang pernah saya dapati dalam sebuah perjalanan bertemu dengan seorang perempuan yang hidup dengan seorang suami kedua dan lima orang anaknya. Perempuan itu bernama Mawar (samaran), tampak dalam kesehariannya kehiupan Mawar bahagia. Saya sempat tinggal di satu rumah kontrakan yang sama dengannya, tidak jarang pula saya memuji suami keduanya itu karena sangat menyayangi ketiga anak Mawar yang tinggal bersama mereka. Memang dua orang anak Mawar lainnya memilih tinggal masing-masing di kota yang berbeda karena ingin bekerja di sana,  tetapi selalu datang setiap akhir pekan. Sedangkan tiga lainnya masih bersekolah di tingkat sekolah dasar.

Suatu waktu saya melihat Mawar merokok di suatu pojok, di sampingnya terdapat kursi yang tidak ia duduki. Saya sungkan menegurnya, karena ia tampak sedang menghadapi suatu masalah. Belakangan suaminya juga tidak tampak di rumah. Saya langsung saja menuju bilik saya tetapi memang karena kontrakan tersebut isinya hanya perempuan saja (kecuali keluarga Mawar, karena jauh lebih dulu di situ) saya tidak menutup rapat pintu kamar, apalagi juga karena kebetulan suaminya sedang tidak di rumah. Mawar tampak resah dan mulai lalu lalang, saya tidak menyangka bahwa ia sangat ingin mencurahkan hatinya pada saya.

Mawar mengetuk pintu, "bu, boleh saya duduk di sini?" tentu saja saya lekas menjawabnya "boleh, silahkan.. ada apa mba?" kemudian ia kembali menyalakan sebatang rokok. "aku sudah tidak tahan lagi." Ia kembali mendapati suaminya berciuman dengan seorang lelaki lain. Sontak saya juga terkejut. Suaminya memang belum bercerai dengan istri pertamanya, sedangkan Mawar adalah seorang perempuan yang pernah gagal dalam pernikahan sebelumnya dan kemudian menerima peninangan mas Yanto (samaran). Mas Yanto sangat baik, lembut, dan jujur termasuk tentang istri pertamanya. Mas Yanto bukanlah seorang laki-laki yang berkecukupan, tetapi katanya istrinya cukup kaya, tetapi selalu memaksanya untuk pergi ke luar kota, supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih. Istri pertamanya hidup di kota yang berbeda pula, namun demikian dengan pekerjaannya sebagai kariawan biasa ia juga terus mengirimkan uang untuk istri pertamanya, bahkan untuk mencukupi biaya hidup, mas Yanto juga kadangkala mengumpulkan botol plastik untuk di jualnya kembali ke ronsokan. Sedangkan Mawar bekerja di sebuah hotel sebagai kariawan kecantikan dan masage yang juga tidak jarang digoda oleh lelaki hidung belang, tetapi demi memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya, ia rela melakukannya dengan batasan-batasan tentunya. Ia selalu menjaga dirinya agar tidak terjebak dengan kehidupan yang seperti itu.

Baru-baru ini mas Yanto memohon izin pada Mawar karena istri pertamanya akan datang, tetapi tentu ia tidak akan tinggal di rumah yang sama. itu artinya sementara mas Yanto juga harus mencarikan kontrakan untuk istri pertamanya itu. Mas Yanto mohn izin supaya Mawar memberikan izin padanya dan bersabar karena ia tentu akan jarang pulang dalam dua-tiga bulan ini. Hal itu saja sudah membuat Mawar sedih. Wajar saja, bagaimana tidak? Perempuan akan selalu memberikan apresiasi pada laki-laki yang jujur terhadapnya, sekalipun itu sakit. Begitu juga Mawar, ia memberikan izin pada suaminya. 

"Kemarin, aku ke tempatnya bekerja karena rindu. Sudah seminggu ia tidak pulang kemari". Di situlah di mana Mawar mendapati lansung untuk pertamakalinya hal memilukan itu, walaupun sebenarnya ia sudah pernah mendapati pesan singkat mesra kepada sesama jenis dari telepon genggam suaminya. Lelaki itu adalah bosnya, mas Yanto terpaksa melakukannya untuk mendapatkan uang tambahan. Ia tidak ingin melihat Mawar dan anak-anak berkekurangan, sementara anak dan istri pertamanya selalu menuntunya. Mawar tampak sangat sedih, kelam pandangannya bercampur dengan perasaan jijik. 

Kasus yang dialami Mawar membuktikan bahwa bagaimanapun perempuan tidak bisa bertinggi hati dalam mengucapkan sesuatu termasuk tentang lelaki. Pada kenyataannya, dunia sering terkesan tidak adil bagi kita yang tengah mendapati ujian kehidupan. Tetapi, ada logika-logika dimana kita harus terus menyeimbangkannya dengan perasaan. Apapun yang terjadi pada kehidupan Mawar, ia telah menunjukkan bahwa ia tidak pernah berkata bahwa; ia akan benci pada lelaki selamanya (baik itu karena perasaannya yang jijik, kecewa, dan jalan kehidupan rumahtangganya yang sering gagal). 

Atas nama cinta, perempuan kerap kali rela memberikan segala hal termasuk mimpi-mimpi yang telah dibayangkannya sejak lama. Sebab itu, seharusnyalah lelaki bisa memahami hal tersebut bukanlah hal yang mudah. Jangan menyepelekan segala hal, sebab itu berbagilah pada seseorang yang benar-benar dianggap dapat dipercaya dan memberikan solusi atau nasihat. Jangan melebarkan masalah sendiri. Bijaksanalah dalam mengatur perasaan yang bisa saja sewaktu-waktu jatuh cinta pada siapapun dengan ajaibnya. Satu hal perempuan, bertanggungjawablah pada suatu pilihan atau persetujuan. Kalimat "semua laki-laki itu sama" adalah gambaran kekecewaan dan keputusasaan atau gambaran ketidaksiapan masa lalu.

#Pelajaran hidup bisa didapatkan dari mana saja
Jheasra. A (yenifardila)
Jakarta, 31/1/2017