Kamis, 02 Maret 2017

Duhai Huesca.

           Belajar dari sepucuk romansa kata cinta. Aku hanya memberanikan diri untuk bertahan pada kejujuran antara aku dalam jiwa hingga ke dasar hati. Di sebutnya namanya tepat di pangkal telinga. Lebih dari tiga ratus tujuh puluh hari. Hingga hapal aku rupa upayanya. Namun pada perjalanan kasih, kami temukan serupa huesca. Dan ku ukir sajaknya rapi dalam rasa. Menerima kenyataan pada jiwa di dunia yang hilang, ia lah jiwa. Jiwa sayang yang padanya kenangan menjadi derita pula bayangan yang membuat tinjauan menjadi beku. Angin bangkit seketika itu, jingga. Mengingatkan ku pada musim gugur. Satu yang kutindikkan dalam diri, mengingat segala yang baik dan kemudian ikhlas menziarahi cinta yang mengekal. Tanpa ku minta ia mengenang dan membayangkan aku dengan mesra. Pada rembulan ku titipkan kejujuran, pada kehidupan ku buktikan, dan pada kematian ku tancapkan.

yenifardila
Jheasra. A
Duhai Huesca.
Sajak bersambung...

Puisi Huesca adalah milik Chairil Anwar, puisi tersebut banyak menginspirasi saya. Saya menulis ini bukan untuk membajak atau mengubah naskah puisi sebenarnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar