Perempuan merupakan
manusia yang rapuh dan butuh perlindungan, tetapi kadangkala kita juga
dapat tangguh menghadapi perihal kehidupan. Menjadi seorang perempuan
hendaknya bijaksana dan tentu harus dapat menjaga dan menghormati diri
sendiri. Sedangkan cinta merupakan suatu hal sensitif
dalam kehidupan perempuan itu sendiri. Cinta dapat menjadi energi yang
memungkinkan suatu waktu dapat berubah menjadi tenaga atau bisa jadi
sianida, artinya tergantung bagaimana kita menyikapi hal-hal yang
berkaitan dengan perasaan dan keinginan. Dalam tulisan perdana di blog ini, saya ingin sedikit berbagi tentang perempuan dan logika cinta.
PERNAHKAH ANDA JATUH CINTA?
Pastinya
beberapa dari pembaca berpikir bahwa ini pertanyaan bodoh, tentu saja
pernah. Sejatinya manusia, perempuan juga tidak dapat mengendalikan pada
siapa ia akan jatuh cinta. Beberapa perempuan memang memiliki kriteria
sendiri dalam memandang cinta. Tetapi, sekalipun perempuan membatasi
dirinya terbuka hanya pada lelaki (misal: kaya, tinggi, setia, tampan,
dll) bukan berarti dapat memastikan bahwa suatu waktu ia tidak akan
jatuh cinta pada lelaki sederhana. Pada intinya, hampir semua perempuan
menginginkan laki-laki yang dapat membuatnya merasa menjadi perempuan
yang beruntung.
Banyak
model awal jatuh cinta bisa terjadi sebelum akhirnya menjadi mencintai.
Tidak ada yang salah pada hal itu, tergantung bagaimana kita
menyeimbangkan perasaan dan logika. Banyak pendapat mengatakan bahwa
perempuan lebih banyak menggunakan perasaan dalam berpikir. Tetapi
apabila perempuan itu sendiri telah berada di fase benar-benar kecewa, perasaannya bisa berubah menjadi logika yang kadangkala tidak dapat dikendalikan sebagaimana semestinya.
Pada
kali ini, saya hanya ingin membahas satu kasus yang pernah saya dapati
dalam sebuah perjalanan bertemu dengan seorang perempuan yang hidup
dengan seorang suami kedua dan lima orang anaknya. Perempuan itu bernama
Mawar (samaran), tampak dalam kesehariannya kehiupan Mawar bahagia.
Saya sempat tinggal di satu rumah kontrakan yang sama dengannya, tidak
jarang pula saya memuji suami keduanya itu karena sangat menyayangi
ketiga anak Mawar yang tinggal bersama mereka. Memang dua orang anak
Mawar lainnya memilih tinggal masing-masing di kota yang berbeda karena
ingin bekerja di sana, tetapi selalu datang setiap akhir pekan.
Sedangkan tiga lainnya masih bersekolah di tingkat sekolah dasar.
Suatu
waktu saya melihat Mawar merokok di suatu pojok, di sampingnya terdapat
kursi yang tidak ia duduki. Saya sungkan menegurnya, karena ia tampak
sedang menghadapi suatu masalah. Belakangan suaminya juga tidak tampak
di rumah. Saya langsung saja menuju bilik saya tetapi memang karena
kontrakan tersebut isinya hanya perempuan saja (kecuali keluarga Mawar,
karena jauh lebih dulu di situ) saya tidak menutup rapat pintu kamar,
apalagi juga karena kebetulan suaminya sedang tidak di rumah. Mawar
tampak resah dan mulai lalu lalang, saya tidak menyangka bahwa ia sangat
ingin mencurahkan hatinya pada saya.
Mawar
mengetuk pintu, "bu, boleh saya duduk di sini?" tentu saja saya lekas
menjawabnya "boleh, silahkan.. ada apa mba?" kemudian ia kembali
menyalakan sebatang rokok. "aku sudah tidak tahan lagi." Ia kembali
mendapati suaminya berciuman dengan seorang lelaki
lain. Sontak saya juga terkejut. Suaminya memang belum bercerai dengan
istri pertamanya, sedangkan Mawar adalah seorang perempuan yang pernah
gagal dalam pernikahan sebelumnya dan kemudian menerima peninangan mas
Yanto (samaran). Mas Yanto sangat baik, lembut, dan jujur termasuk
tentang istri pertamanya. Mas Yanto bukanlah seorang laki-laki yang
berkecukupan, tetapi katanya istrinya cukup kaya, tetapi selalu
memaksanya untuk pergi ke luar kota, supaya bisa mendapatkan pekerjaan
yang lebih. Istri pertamanya hidup di kota yang berbeda pula, namun
demikian dengan pekerjaannya sebagai kariawan biasa ia juga terus
mengirimkan uang untuk istri pertamanya, bahkan untuk mencukupi biaya
hidup, mas Yanto juga kadangkala mengumpulkan botol plastik untuk di
jualnya kembali ke ronsokan. Sedangkan Mawar bekerja di sebuah hotel
sebagai kariawan kecantikan dan masage yang juga tidak jarang
digoda oleh lelaki hidung belang, tetapi demi memberikan kehidupan yang
layak bagi anak-anaknya, ia rela melakukannya dengan batasan-batasan
tentunya. Ia selalu menjaga dirinya agar tidak terjebak dengan kehidupan
yang seperti itu.
Baru-baru
ini mas Yanto memohon izin pada Mawar karena istri pertamanya akan
datang, tetapi tentu ia tidak akan tinggal di rumah yang sama. itu
artinya sementara mas Yanto juga harus mencarikan kontrakan untuk istri
pertamanya itu. Mas Yanto mohn izin supaya Mawar memberikan izin padanya
dan bersabar karena ia tentu akan jarang pulang dalam dua-tiga bulan
ini. Hal itu saja sudah membuat Mawar sedih. Wajar saja, bagaimana
tidak? Perempuan akan selalu memberikan apresiasi pada laki-laki yang
jujur terhadapnya, sekalipun itu sakit. Begitu juga Mawar, ia memberikan
izin pada suaminya.
"Kemarin,
aku ke tempatnya bekerja karena rindu. Sudah seminggu ia tidak pulang
kemari". Di situlah di mana Mawar mendapati lansung untuk pertamakalinya
hal memilukan itu, walaupun sebenarnya ia sudah pernah mendapati pesan
singkat mesra kepada sesama jenis dari telepon genggam suaminya. Lelaki
itu adalah bosnya, mas Yanto terpaksa melakukannya untuk mendapatkan
uang tambahan. Ia tidak ingin melihat Mawar dan anak-anak berkekurangan,
sementara anak dan istri pertamanya selalu menuntunya. Mawar tampak
sangat sedih, kelam pandangannya bercampur dengan perasaan jijik.
Kasus
yang dialami Mawar membuktikan bahwa bagaimanapun perempuan tidak bisa
bertinggi hati dalam mengucapkan sesuatu termasuk tentang lelaki. Pada
kenyataannya, dunia sering terkesan tidak adil bagi kita yang tengah
mendapati ujian kehidupan. Tetapi, ada logika-logika dimana kita harus
terus menyeimbangkannya dengan perasaan. Apapun yang terjadi pada
kehidupan Mawar, ia telah menunjukkan bahwa ia tidak pernah berkata
bahwa; ia akan benci pada lelaki selamanya (baik itu karena perasaannya
yang jijik, kecewa, dan jalan kehidupan rumahtangganya yang sering
gagal).
Atas
nama cinta, perempuan kerap kali rela memberikan segala hal termasuk
mimpi-mimpi yang telah dibayangkannya sejak lama. Sebab itu,
seharusnyalah lelaki bisa memahami hal tersebut bukanlah hal yang mudah.
Jangan menyepelekan segala hal, sebab itu berbagilah pada seseorang
yang benar-benar dianggap dapat dipercaya dan memberikan solusi atau
nasihat. Jangan melebarkan masalah sendiri. Bijaksanalah dalam mengatur
perasaan yang bisa saja sewaktu-waktu jatuh cinta pada siapapun dengan
ajaibnya. Satu hal perempuan, bertanggungjawablah pada suatu pilihan
atau persetujuan. Kalimat "semua laki-laki itu sama" adalah gambaran
kekecewaan dan keputusasaan atau gambaran ketidaksiapan masa lalu.
#Pelajaran hidup bisa didapatkan dari mana saja
Jheasra. A (yenifardila)
Jakarta, 31/1/2017