Rabu, 01 Februari 2017

Mengukur Kemampuan (Dewasa)

Seiring dengan sepotong kisah nyata seorang perempuan pada catatan sebelumnya, bahwa ada satu hal yang paling penting untuk diingat. Ada sesuatu kewajaran yang boleh mendapatkan maaf, atau bahkan harus diberi maaf karena perasaan tetap tidak dapat dirumuskan bagaimana ia bisa datang dan jatuh hati kepada seseorang. Kenyamanan adalah salah satu alasan paling masuk di akal, setelah alasan merasa penat dengan situasi sebelumnya, atau waktu kedatangan yang pas pada saat itu, dan atau serentetan alasan lain.

Saya kemudian terus berjalan memandang dan meresapi hal-hal di sekeliling saya dengan sangat sensitif. Saya menemukan seseorang perempuan lain, ialah seorang perempuan yang berpendidikan dan berada, suaminya juga begitu. Saya cukup kenal dekat dengan suaminya. Di jejaring sosialnya, tampak bahwa yang ia akui pada masa adalah istri pertama, sedangkan istri keduanya hanyalah dikenal oleh sebagian kalangan saja.

Jangan pernah berpikir bahwa menjadi istri kedua selalu mendapati kisah seperti ini, tangkaplah dengan lapang dan bijaksana. Tidak pula lelaki mau melakukan hal yang sama, dan atau bukan berarti pula lelaki tersebut selalu tidak beralasan. Teruslah menjadi manusia yang mau mengintropeksi diri.

Beberapa waktu silam, saya membaca ucapan selamat uangtahun mba Maya kepada anaknya yang baru saja berusia 11 tahun. Ia juga mengucapkan kata rindu dan penguatan bagi anaknya yang sudah mulai beranjak remaja dan pandai bertanya. Di situlah perempuan harus pandai pula memainkan perannya. Saya merasa sangat terenyuh. Saat itu, antara saya dan mba Maya hanya saling kenal di dunia sosial, saya pula tidak percaya bahwa dalam suatu pertemuan, ia sangat berniat untuk mencari saya.

Di sela keramaian kemudian kami bertemu, ia bercerita malu-malu. Semakin mengisahkan kehidupannya. Saya tidak pernah berani menyalahkan perasaan, karena saya percaya pada jalan yang telah, sedang, atau akan kita hadapi telah diatur dengan sempurna oleh Tuhan. Ialah seorang perempuan yang menikah dengan seorang lelaki yang berhasil membuatnya jatuh dan nyaman kala itu. 

Bukankah perempuan benar-benar akan tangguh dan yakin pada kehidupan yang telah diterimanya dalam bentuk janji? Tetapi, alangkah baiknya mengukur kemampuan sebelum mengambil keputusan atau siap dengan keputusan yang telah disetujui. Kini nasi telah menjadi bubur, supaya dapat menikmatinya ya dengan cara membumbuinya. Jangan sesekali menyesali sebuah pernikahan. Sebelum berani memutuskan, maka sadari dulu bahwa anda akan menjadi istri kedua, dan segala kemungkinan bisa saja terjadi (baik yang diinginkan atau tidak). Bahwa segala kemungkinan bisa saja terjadi. 

Sang suami kerap tidak pulang ke rumahnya, atau pulang hanya untuk sekedar berhubungan dan atau mengirimkan uang seolah borongan nafkah. Pernahkah terpikirkan oleh lelaki bagaimana seorang istri merasa diperlakukan sebagai simpanan? dan anak-anak yang merasa ayah mereka direbut atau mereka yang justru merebut ayah orang lain yang sudah jauh lebih dulu memiliki? Bagaimana pula seorang perempuan mengendalikan pikiran amarah dan kekhawatiran terhadap seorang suami yang ia cintai? Mereka hanya bisa berdiam dan menunggu takdir berpihak pada mereka, sembari itu mereka bermain dengan waktu dan mencoba mengalihkan pikiran.

Sebab itu saya ingin sekali menuliskan beberapa kisah dalam blog ini, saya sangat menginginkan perempuan tangguh dalam menghadapi perihal kehidupannya yang peling dengan jiwanya yang rapuh. Tetapi, ingatlah terus menerus bahwa Tuhan selalu bersama kita. Jangan terus menerus melibatkan diri pada kekosongan waktu dan kegalauan tiada akhir. Bahwa waktu akan terus berjalan, segala apapun dapat dipelajari darimana pun asalnya. Kisah-kisah seperti ini tidak hanya terjadi pada satu orang perempuan saja.

Ia menangis sesegukan, di lorong sebelah taman baca itu ia menyebut-nyebut anaknya. Tak dapat disimpannya sendiri, terlebih hanya diam. Kini tidaklah ada yang boleh disesali, usia semakin lanjut, anak-anak telah pandai mengulikkan serentetan pertanyaan di benak mereka. Jangan memisahkan ia dengan istrinya, dan berupayalah menjadi perempuan lagi istri yang mulia.

#Pelajaran hidup bisa didapatkan dari mana saja
Jheasra. A (yenifardila)
Jakarta, 31/1/2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar